Total Pageviews

Senin, 27 Februari 2012

Do’a yang tersembunyikan


Hitam… memaksa merenung pilu
Kosong… membuat lunglai tubuh

Tiada bahkan udara pun jua
Hampalah jawab singkatnya
Sinar yang pupus ditelan waktu
Sayap sayap kegelapan membayang
Menduka jiwa dalam rapuhnya raga

Angan yang tuk tak lagi ini
Cemas mengingin bak penting
Tak duga setiap hembusan ternoda
Setitik nila nyata semu sekarangnya

Merintih di pundak kuasa langit
Kan tak henti tak akan ada habisnya
***
Di awal terlihatlah puncak di akhir
Rela lepas untaian waktu percuma
Dalam puing – puing do’a pujangga
Kini ada sebuah kata nyata membeku

Melodi indah penuhi kosong jiwa
Rajutan permai menawan hati
Menyelinap dalam nafas sesaknya

Hadirlah permadani di luluh hiti
Bak bisik memecah sunyi
Manis madu di kehausan
Arah saat hilang menemani

Pada-Nya ku ucap sebongkah pinta
Tertulis tinta cinta pusaka jiwa
Untukmu ku berikan percuma
Kau tau itu yang jua semu
Tidaklah sadar dariku selalu
Asa pada-Nya tuk sanding kau


“Seberapa pun kau tau, tak akan pernah tau aku. Saat kau tak pernah tau, aku mengetahui dan selalu berharap tuk bersamamu.”

Oleh                : Limada Iqbal
Tanggal         : 25 September 2011

Rabu, 21 Desember 2011

Renungan Gelimangan Sampah

Dalam muda ku yang lebih awal
Tersia di dunia yang fana
Bergerak tertendang kesana kemari
Tak dihirau sakit badan ini
Terus terkoyak cabikkan waktu
Ingin ku membatu saja
Kan lebih terlihat mentari buta

Saat dingin menerpaku dalam gulita
Tiada selimut sinar bulan
Ketika tangisku menyalju pula
Tiada terhirau lagi
Bersujud yang ku ingin
Hanya do’a ku panjatkan
Terbanglah padaku dari-Mu
Anugerah…

Siang menjelang tinggi mentarinya
Dan hangus badanku penuh peluh
Lagi – lagi itu…
Pandangan lurus tak ke daku
Berpaling yang terus saja
Kata ku selalu, Ya Tuhan…
Letakkan tatapannya kepadaku
Tuhan… do’aku itu…
Itu sajalah…

Dewasalah hidupku yang lebih tua
Kusam wajahku ini
Tapi,.. tak berubah yang dulu
Makin terinjak oleh sepatu keras

Dengarkah Kau Maha Mendengar?
Taukah Dirimu Maha Mengetahui?
Tiada akhir penderitaan ini
Bak jalan tak berujung

Namun, relaku sudah diujung hayat
Saat memekikkan isyarat menyerah
Tegarku datang memanggil
Berbisik pelannya…
Keajaiban akan memelukmu segera
Fikirku berharap…
Dalam derita yang sangat
Selalu begitu…

Sampai ujung hayatku tua
Reot tubuhku tak berkeras
Remuk tulang tiada terasa lagi
Terpaksa membelakangi jalan
Dan berjalan lurus kembali
Mencari keadilan yang hilang
Dari-Nya…
Ketika harap t’lah tiada…

Selasa, 20 Desember 2011

Saat Kau Tanya


Jarum detik berputar dengan pasti
Kan berlalu saat waktunya tiba
Waktu merangkak dalam hidup
Yang menua tiada kiranya

Bila malam timbul gelap
Panas siang terangnya mentari
Terus saja tiada ubah
Tak tunda yang pasti adanya
Dilawan kan percuma jua

Jika detik memutar menit
Dan jam berputar pelannya
Hari beralih bulan dan matahari
Terus mengganti bulan demi tahunnya

Sejak hidup adalah berubah
Tak berarti semua
Kelak yang menahan ada rupanya
Kau tak lihat atau rasa

Walau saat kau Tanya
Kepada Tuhanmu sekalian
Di sujudmu setiap waktu
Bersama rintihan menerus
Tak temu kau jawabnya

Ketika hatimu resah hampa
Ingatlah ketika kau katakana

“Seberapa besar kau setia?”
Pada daku ini
Walau termenung sejenak
Menerka dengan bimbangku
Jika mulut beku
Hati tak akan mampu bisu

Saat kau Tanya lagi
Ia jawab dengan lugunya
“AKU SE-SETIA DIANTARA DUA HATI”
Lalu kau pun terpana
Menangis pilu dalam cinta

“Saat kau bimbang dalam perasaanmu kepadaku. Bimbang dengan kesetiaanku, ingatlah kati dariku yang tak akan terhapus dalam puisi ini. Seperti cintaku yang tak akan pernah terhapus oleh dua hati sekalipun.”


Karya          : Sir Limada Iqbal
Tanggal         : 18 Mei 2011

Saat Lautku Terkenang


Luas terbentang biru permadani
Beserta hamparan butir pasirnya
Pesona terpancar begitu indahnya
Dan gumpal awan tetap mengayomi

Kerudung putih menutup mentari
Dalam panas yang membakar ari
Semangat pengayuh perahu ini
Mengais rezeki dan do’a sembari

Laju sirip enggan hentinya
Terus maju tiada habisnya
Menantang jaring-jaring lebar
Bak pendekar yang kekar

Walau tsunami kadang menerjang
Luluh-lantakan semua  orang
Namun harap yang selalu melayang
Itu sajalah yang terkenang



Karya      : Limada Iqbal
Tanggal   : 19 Mei 2011